Rabu, 14 November 2018

Sabda Rasulullah dan Amanah Jabatan

Suatu waktu Abu Dzar al-Ghifari bertanya kepada Nabi. "Ya Rasulullah, mengapa kau tak memberi jabatan apa-apa kepadaku?" Sambil menepuk bahu sahabatnya yang zuhud itu, Nabi menjawab, "Hai Abu Dzar, kau seorang yang lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah."

Sebagai amanah, sabda Rasulullah, jabatan kelak pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya (HR Muslim).

Sabda Nabi itu tidak hanya untuk Abu Dzar, tetapi untuk umatnya. Nadanya seperti mengancam, tapi seorang Nabi peduli pada umatnya itu sedang mewanti-wanti. Ada tiga kriteria pejabat (pemikul jabatan) yang tersembunyi dalam pesan di atas yaitu: amanah, mengambil dengan benar, dan menunaikan dengan baik.

Kriteria di atas tidaklah sederhana. Sebab, pejabat dalam gambaran Nabi adalah pekerja bagi orang banyak, bukan sekadar penguasa. Dan pekerja seperti digambarkan oleh Alquran haruslah orang yang kuat dan terpercaya. "Sesunguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya," (QS al-Qashas (28) :26).

Kuat pada ayat di atas adalah kuat bekerja dalam memimpin. Sedang maksud amanah (dapat dipercaya) adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Maka, sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pejabat. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya.

Nabi pun konsisten dengan kriterianya. Khalid bin Walid dan 'Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer, padahal ilmu keislaman mereka berdua belum mamadai. Namun, ternyata keduanya dianggap kuat bekerja dan mampu menjaga amanah.

Sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan hadisnya dan banyak mendampingi Rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. Semangat Hasan bin Tsabit membela Islam juga tidak masuk kriteria orang yang layak memegang pimpinan atau jabatan. Tentu lagi-lagi karena tidak masuk kriteria pemimpin yang dicanangkan Nabi.

Masalahnya, seseorang bisa gagal menunaikan tugas jabatannya dan kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khiyanat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Maka Alquran memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf. Dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz), dan berpengetahuan (alim) (QS Yusuf (12) :54-55).

Ini berarti kriteria pemimpin ditambah satu syarat lagi, yaitu hafiz, artinya 
menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadis yang lain: Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya. (HR Nasa'i dan Ibnu Hibban).

Syarat yang satu lagi adalah sifat al-'alim, artinya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, mengetahui ilmu tentang tugasnya. Adalah malapetaka suatu bangsa jika pejabat dan pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat ternyata tidak cukup ilmu tentang tugasnya. Inilah yang diwanti-wanti Umar ibn Khattab bahwa amal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Di sini kita akan mafhum apa kira-kira sebabnya Abu Zar tidak diberi jabatan oleh Nabi.

Pemimpin atau pejabat Muslim yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang bersifat amanah, memperolehnya dengan benar, menunaikan dengan baik, kuat, dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) amanahnya dan berpengetahuan (alim) tentang tugas jabatan dan kepemimpinannya.

Senin, 09 April 2018

Begini Gaya Kepemimpinan Umar bin Khattab yang Sederhana dan Merakyat

Bicara tentang sosok pemimpin yang sederhana dan merakyat, tentu profil Umar bin Khattab menjadi salah satu referensi yang sulit untuk dilewatkan. Selain kepemimpinan, keberanian dan kewibawaannya, Umar bin Khattab jufa dikenal sebagai pemimpin yang sederhana dan merakyat.
Sebagai seorang pemimpin, ia selalu ikut merasakan apa yang sedang dialami oleh rakyatnya. Bahkan dalam banyak kondisi, Ia mengambil sikap yang lebih mementingkan rakyatnya daripada dirinya sendiri. Ia ingin menjadi orang yang pertama merasakan lapar dan menjadi yang terakhir merasakan kenyang di antara rakyatnya.
Dalam kitab Khulafaur Rasul Shallallahu Alayhi Wasallam, Syaikh Khalid Muhammad Khalid menulis dengan rapi gaya hidup Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu yang sangat sederhana dan merakyat. Salah satu falsafah hidup yang pernah diungkapkannya ialah, “Bagaimana mungkin aku bisa peduli terhadap nasib manusia jika aku tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan?”

Pada tahun 18 hijriah, kota Madinah mengalami musim pencekik. Ia menyuruh beberapa orang menyembelih unta, kemudian membagikan sembelihan itu kepada seluruh penduduk Madinah. Mereka yang bertugas menyembelih tidak lupa memberi bagian daging yang terbaik dari unta tersebut untuk Amirul Mukminin.
Ketika tiba waktu makan siang, Umar mendapati meja hidangannya penuh punuk dan hati unta, lalu ia berkata, “Dari mana datangnya makanan ini?”
“Itu daging unta yang disembelih hari ini” jawab orang yang ada di sekelilingnya.
Lalu sambil menyingkirkan hidangan tersebut, Umar berkata, “Bagus-bagus! Sungguh, pemimpin paling buruk adalah aku, jika aku memakan bagian yang terbaik darinya sedangkan kusisihkan tulang-tulangnya untuk rakyatku.”
Kemudian ia memanggil pembantunya yang bernama Aslam, “Wahai Aslam! Angkatlah hidangan ini dan berilah aku roti serta minyak.”

Perkataannya “Sejelek-jelek pemimpin adalah aku, jika aku memakan bagian yang terbaik”, menunjukkan rasa tanggung jawab nan besar lagi bersinar yang terpancar darinya dan dari kehidupannya sehari-hari. Ia sadar bahwa ia adalah salah satu makhluk Allah Ta’ala yang diberi kelebihan dalam urusan beban dan kewajiban ketika Allah menjadikannya sebagai pemimpin bagi seluruh hamba-Nya.

Sumber: Seri Biografi Khulafaur Rasyidin Umar Bin Khattab, Karya Khalid Muhammad Khalid, Penerbit Ummul Qura, Jakarta Timur